Agats, SahabatRakyat.Id – Monolog itu, katanya, harus berdiri di atas panggung rapi, bersih, dan bisa dinilai oleh juri profesional. Tapi di Asmat, seorang siswa justru berdiri di atas lumpur, di tepi sungai, di bawah napas hutan yang pelan-pelan hilang dan di situlah ia dianggap tidak memenuhi syarat. Namanya Onggaria Asokome, siswa kelas X jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan di SMK Negeri 1 Seni dan Industri Kreatif Asmat. Ia tidak pentas di atas panggung, di bawa sorot lampu atau membawa properti. Ia bahkan tidak membawa definisi. Ia hanya membawa suara. Suara itu ia titipkan pada hutan.
Barangkali para juri di ruang yang terang itu sedang sibuk mengukur: apakah ini monolog atau bukan? Apakah ia memenuhi kaidah A, B, dan C? Apakah napasnya sesuai teknik, apakah jedanya cukup akademis? Sementara itu, Onggaria justru berdialog dengan sesuatu yang tak pernah diajarkan dalam buku panduan lomba: kesedihan.
Ia berdiri di tepi sungai. Kakinya tenggelam dalam lumpur. Di belakangnya, hutan berdiri sebagai latar, sebagai saksi. Di situlah ia berbicara tentang “Ibu”.
“Ibu yang tidak pernah lelah memberi makan.”
Sebuah metafora sederhana. Terlalu sederhana, mungkin, untuk meja penilaian yang terbiasa dengan istilah “interpretasi naskah” dan “eksplorasi karakter”. Terlalu jujur untuk sistem yang lebih nyaman dengan simulasi emosi daripada emosi itu sendiri.
Maka, Lomba FLS3N mulai terasa pahit: Onggaria sebenarnya tidak keluar dari kaidah monolog, ia justru menghidupkannya. Satu tubuh, satu suara, satu kesadaran yang menanggung beban cerita. Ia membangun relasi dengan “lawan main” yang tak kasatmata: hutan, sungai, bahkan masa depan yang terancam. Bukankah itu inti monolog? Atau jangan-jangan, definisi monolog kita sudah terlalu sempit, terkungkung di panggung kotak, terikat pada kursi penonton, dan kehilangan keberanian untuk mengakui bahwa dialog terdalam sering terjadi dengan yang tak terlihat?
Monolog tidak pernah bergantung pada panggung, melainkan pada kesadaran tunggal yang berbicara dan membangun relasi dengan yang tak hadir. Jika satu suara mampu menghadirkan lawan bicara meski itu hutan, ingatan, atau kehilangan maka ia telah memenuhi kaidahnya.
Lalu pertanyaannya berbalik: apakah yang dinilai adalah bentuknya, ataukah ketidakmampuan kita memahami bentuk yang tidak biasa? jika ini bukan monolog, maka apa? Dan jika ini monolog, lalu siapa yang keliru membaca? Apakah mungkin, sekadar mungkin yang salah kaprah bukan peserta, melainkan penilai? Sebab memahami monolog bukan sekadar menghitung teknik, tetapi menangkap kesadaran tunggal yang berbicara kepada dunia. Dan itu, rupanya, tidak selalu bisa diajarkan dalam lembar penilaian.
Sementara itu, di ruang lain yang lebih berkuasa dari sekadar meja juri, narasi yang sama sekali berbeda sedang diproduksi dengan nama yang lebih terhormat: pembangunan. Kata yang terdengar mulia, seolah setiap pohon yang tumbang adalah bentuk pengorbanan suci demi masa depan. Tapi Onggaria, dengan caranya yang mungkin “tidak sesuai format”, menyebutnya dengan bahasa yang lebih tua: kehilangan.
Ia marah dan kemarahan itu tidak ditata rapi dalam blocking panggung. Ia tidak memproyeksikan suara ke kursi penonton. Ia memproyeksikannya ke batang-batang pohon yang mungkin esok sudah tidak ada. Justru di situlah letak kekuatannya.
Namun, dalam dunia yang membutuhkan definisi sebelum makna, kekuatan seperti itu seringkali dianggap salah kategori.
“Monolog harus memainkan banyak peran,” kata yang berwenang menilai.
Ah, tentu saja. Karena hutan tidak masuk dalam daftar properti resmi. Karena lumpur tidak tercantum dalam desain artistik. Karena kesedihan tidak punya kolom penilaian tersendiri.
Barangkali Onggaria lupa bahwa seni, ketika masuk lomba, harus patuh. Harus rapi. Harus bisa dijelaskan. Tidak boleh terlalu liar apalagi sampai menyerupai hutan itu sendiri.
Dan hutan, seperti yang kita tahu, memang sulit dikendalikan. Ia tumbuh tanpa izin. Ia hidup tanpa kurikulum. Ia berbicara tanpa harus menunggu giliran.
Maka Onggaria tidak mewakili Kabupaten Asmat. Bukan karena ia tidak memahami seni peran tunggal, tetapi mungkin karena ia terlalu mampu, mampu menembus batas yang justru ingin dijaga oleh sistem. Ia tidak sekadar memainkan peran; ia menjadi suara dari sesuatu yang tidak punya mikrofon.
Dan mungkin itu yang membuatnya “tidak memenuhi kriteria”.
Namun, di luar ruang penilaian, di antara suara air yang mengalir dan daun yang berbisik, pertunjukan itu tetap berlangsung. Tanpa juri. Tanpa skor. Tanpa keputusan akhir.
Hanya ada seorang anak muda perempuan dari pedalaman Asmat dan hutannya.
Dan di sana, untuk pertama kalinya, “monolog” tidak lagi penting.
Yang penting adalah: ada yang masih berbicara untuk Ibu.
Barangkali yang sebenarnya gagal bukanlah Onggaria, melainkan cara kita memahami seni itu sendiri. Kita terlalu sibuk memastikan bentuknya, sampai lupa menanyakan: untuk siapa suara itu disampaikan? Kita terlalu cepat memutuskan kategori, sampai tidak sempat merasakan luka yang sedang dibicarakan. Dalam logika lomba, yang penting adalah kesesuaian. Dalam logika hutan, yang penting adalah keberlangsungan. Dan dua logika ini, tampaknya, belum pernah benar-benar duduk satu meja.
Lebih ironis lagi, kita hidup di zaman di mana pelestarian hutan dijadikan tema lomba bukan sebagai tindakan nyata. Kita rayakan “kepedulian” dalam bentuk panggung, sementara di luar sana, gergaji tetap bekerja tanpa perlu audisi. Anak-anak diminta berbicara tentang alam, tapi ketika mereka benar-benar berbicara dengan cara yang alamiah, kita katakan: “maaf, itu tidak sesuai format.” Seolah-olah hutan pun harus tunduk pada juknis buatan sendiri.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika hutan itu benar-benar habis ketika “Ibu” yang disebut Onggaria hanya tinggal metafora kosong, kita akan menggelar lomba lagi. Tema baru: “Mengenang”. Dengan juri yang sama, kriteria yang sama, dan panggung yang semakin megah. Hanya saja, saat itu, tidak akan ada lagi lumpur di kaki. Tidak ada lagi suara asli yang bisa dipinjam. Yang tersisa hanyalah pertunjukan tentang sesuatu yang dulu pernah hidup dan pernah diabaikan.
































































































