Agats, SahabatRakyat.Id – Suasana Aula Wiyata Manda, Senin pagi (20/04/2026), semula terasa biasa saja. Kursi-kursi terisi rapi, para guru, siswa, dan undangan duduk menanti satu per satu penampilan dalam lomba baca puisi memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026. Namun ketika nama itu dipanggil Petrus Sosokcemen ruangan mendadak hening dengan cara yang berbeda.
Anak laki-laki dari Kampung Ayam, Distrik Akat itu melangkah ke depan. Tanpa gemuruh, tanpa kegugupan yang berlebihan. Hanya ada tatapan lurus dan suara yang perlahan mengalir, lalu menguat, membawa setiap kata menjadi hidup.
Ia membuka puisi dengan bait yang sederhana:
“Di ujung desa yang sunyi senyap,
langkah kaki kecil merayap raya,
menembus empunya, membelah kabut, mengejar mimpi yang tak boleh luput.”
Sejak bait pertama, suasana berubah. Penonton terhipnotis. Kata-kata yang lahir imajinasi penulis itu terasa dekat dengannya, seakan menggambarkan kehidupan banyak anak di pelosok Asmat. Tidak sedikit yang menunduk, menyeka mata. Di barisan depan, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat, Barbalina Toisuta, tampak tak kuasa menahan air mata.
Petrus bukan nama baru di panggung. Ia pernah meraih Juara 3 dalam lomba “story telling” pada Festival Yan Smit Keuskupan Agats. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi bekal untuk berdiri lebih percaya diri di depan banyak orang. “Saya sudah pernah tampil di depan umum,” ujarnya singkat.
Namun hari itu, ia tidak hanya tampil ia menyampaikan pesan. Sebagai anak asli Asmat dari Kampung Ayam, ia membawa suara dari tempat yang sering dianggap jauh. Dalam setiap bait, terasa denyut kampungnya, harapan keluarganya, dan mimpi yang ia jaga.
Di penghujung penampilan, suaranya menguat. Ia menutup dengan bait yang membuat aula benar-benar terdiam:
“Tinta itu bukan sekadar warna,
tapi doa yang membumbung ke semesta. Bahwa dari pelosok yang terlupakan, akan lahir pemimpin masa depan.”
Kalimat-kalimat itu seakan menggema lebih lama dari tepuk tangan yang menyusul kemudian.
Hasil akhir menempatkannya sebagai Juara 2 lomba baca puisi. Sementara Juara 3 diraih oleh temannya Diva Briani Mosa dari SD YPPK St. Marthinus De Porres Ayam, yang juga tampil memukau dengan karakter puisinya sendiri. Namun bagi banyak orang di aula itu, Petrus telah memberi lebih dari sekadar penampilan ia menghadirkan harapan.
“Meski anak kampung, saya harus juara di ibu kota Asmat,” katanya tegas. Sebuah keyakinan yang tidak hanya ia ucapkan, tetapi ia buktikan.
Di tengah semangat Hari Pendidikan Nasional, kisah Petrus menjadi pengingat bahwa dari tempat yang sunyi sekalipun, lahir suara-suara besar. Dan di Aula Wiyata Manda hari itu, puisi tidak hanya dibacakan ia hidup, tumbuh, dan menjelma menjadi harapan.






























































































