SahabatRakyat.Id – Kampung Omanesep, Distrik Betcbamu, tampak cerah ketika rombongan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Asmat tiba, Senin (23/3/2026). Kunjungan itu bukan sekadar seremonial. Ada pesan penting yang dibawa tentang keluarga, masa depan anak-anak, dan kesehatan generasi Asmat.
Dipimpin langsung Ketua TP PKK Kabupaten Asmat, Ny. Me Ing Thera Safanpo, bersama Wakil Ketua Ny. Delvi Tiku Lembang Manggaprou dan Sekretaris Ny. Sitti M.A.F Lefteuw, rombongan menyapa warga dengan pendekatan yang sederhana, tetapi menyentuh inti persoalan kehidupan kampung. Kunjungan kerja ini menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-54 Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK di Indonesia.
Di Omanesep, peringatan itu diterjemahkan menjadi aksi nyata turun langsung, berbicara dari hati ke hati, dan memberi pemahaman yang selama ini sering terabaikan. Pertemuan yang berlangsung hangat, Pokja I mengambil peran penting. Mereka mengangkat isu yang selama ini kerap tersembunyi di balik dinding rumah: kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pernikahan dini.
Dengan suara penuh empati, Me Ing Thera Safanpo menegaskan bahwa kekerasan bukanlah jalan dalam membangun keluarga. Ia mengingatkan bahwa KDRT tidak hanya terjadi dari suami kepada istri, tetapi juga bisa sebaliknya, bahkan dari orang tua kepada anak.
“Kalau itu terjadi, ada konsekuensi hukum yang harus dihadapi,” tegasnya di hadapan warga. Namun, lebih dari sekadar ancaman hukum, pesan yang dibawa adalah kesadaran. Bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat aman, bukan ruang ketakutan.
Isu pernikahan dini juga menjadi perhatian serius. Di hadapan para orang tua, Thera mengajak untuk memberi kesempatan kepada anak-anak perempuan agar tetap bersekolah, bukan terburu-buru dinikahkan.
Ia menjelaskan secara lugas bahwa tubuh anak perempuan pada usia dini belum siap untuk kehamilan. Risiko kesehatan yang muncul tidak hanya mengancam ibu, tetapi juga bayi yang dilahirkan.
“Kalau dipaksakan, anak yang lahir bisa tidak sehat dan berpotensi menambah angka stunting,” ujarnya.
Pesan itu tidak disampaikan dengan bahasa yang rumit, tetapi dengan pendekatan yang mudah dipahami—mengaitkan langsung dengan realitas kehidupan yang mereka lihat sehari-hari.
Sementara itu, di sudut lain kampung, Pokja IV bergerak dengan pendekatan yang berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama: menjaga kehidupan.
Dipimpin oleh Wakil Ketua TP PKK Ny. Delvi Tiku Lembang Manggaprou, mereka menggelar sosialisasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Sasaran mereka jelas balita, ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, hingga para lansia.
Tak hanya berbicara, mereka juga bertindak.
Usai sosialisasi, warga menerima makanan tambahan sehat berupa bubur kacang hijau dan telur rebus. Sederhana, tetapi penuh makna.
Di balik hidangan itu tersimpan upaya untuk menekan angka stunting yang masih menjadi tantangan di banyak kampung.
Bagi ibu hamil dan balita, asupan gizi menjadi kunci tumbuh kembang yang sehat. Sementara bagi lansia, perhatian terhadap gizi menjadi bentuk penghormatan terhadap usia yang telah panjang.
Di kampung seperti Omanesep, pesan itu mungkin terdengar sederhana. Namun jika terus digaungkan, ia bisa menjadi awal dari perubahan besar bagi generasi Asmat ke depan.





















































































