Nabire — Langit Kota Nabire seakan tersenyum cerah ketika ribuan Orang Muda Katolik (OMK) dari lima Keuskupan di Regio Papua memadati jalanan utama kota dalam semarak Defile Salib Papua Youth Day (PYD) II. Kegiatan akbar ini menjadi momen tak terlupakan, bukan hanya karena semangat iman yang membara, tetapi juga karena kemegahan busana Nusantara yang mewarnai setiap langkah peserta.
Defile dimulai dari Lapangan Kodim. Diiringi dentuman ritmis drum band, rombongan peserta mulai bergerak melewati Jalan Merdeka, melintasi Tugu Nabire Hebat, Tugu Selamat Datang, hingga menyusuri Jalan Jenderal Sudirman. Ribuan pasang mata warga kota menyaksikan kemeriahan ini, sebelum rombongan berakhir di halaman Gereja Paroki Kristus Sahabat Kita.
Yang paling mencuri perhatian adalah pakaian adat yang dikenakan para peserta. Beragam busana tradisional Nusantara tampak mewarnai barisan Defile, mulai dari kebaya, kain tenun, ulos, hingga berbagai motif batik. Namun, dominasi pakaian adat Papua menjadi ciri khas tersendiri dalam perarakan ini. Hiasan kepala bulu burung cenderawasih, rok rumbai, lukisan tubuh, dan aneka ornamen khas suku-suku Papua mempertegas identitas daerah dan kekayaan budaya Bumi Cenderawasih.
Para peserta datang dari lima keuskupan besar: Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Agats, Keuskupan Timika, Keuskupan Jayapura, dan Keuskupan Manokwari-Sorong. Masing-masing dengan ciri khas dan kebanggaan daerahnya, namun bersatu dalam semangat iman Katolik dan kebhinnekaan.
“Ini bukan sekadar pawai, ini wujud syukur dan kebanggaan kami sebagai bagian dari gereja Katolik di tanah Papua,” ujar Stevanus, salah satu peserta dari Keuskupan Timika yang tampil mengenakan busana adat Mee Pago.
Sepanjang perjalanan, lagu-lagu rohani, yel-yel OMK, serta doa-doa dilantunkan silih berganti. Jalanan Nabire pun berubah menjadi lautan manusia penuh sukacita. Warga kota yang memadati pinggir jalan turut larut dalam suasana, beberapa bahkan ikut berswafoto bersama peserta yang mengenakan busana adat.
Salib PYD II, simbol utama perhelatan ini, diarak dengan penuh khidmat dan sukacita. Defile ini menjadi lebih dari sekadar perarakan—ia adalah panggung besar persaudaraan, perayaan budaya, dan perwujudan iman yang hidup di tengah keberagaman.
Di ujung perjalanan, ketika rombongan tiba di Gereja Paroki Kristus Sahabat Kita, senyum dan peluh bercampur jadi satu. Para peserta menutup Defile dengan doa bersama, memohon berkat agar rangkaian PYD II berjalan lancar, membawa semangat baru bagi Orang Muda Katolik di seluruh Papua.
“Melihat warna-warni pakaian adat di Defile ini, saya yakin masa depan gereja dan tanah Papua ada di tangan generasi muda yang bangga akan jati diri dan iman mereka,” ujar seorang panitia dengan mata berbinar.
PYD II di Nabire resmi dibuka dengan penuh warna oleh Ketua Komisi Kepemudaan KWI, tradisi, dan harapan besar—sebuah momentum di mana budaya dan iman berpadu, memancarkan semangat persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.
































































































