Nabire – Di negeri berkabut, di antara punggung-punggung pegunungan yang terjal, tanah Papua menyimpan cerita tentang keberanian yang tak banyak orang tahu. Di sanalah, di sudut sunyi Paroki St. Petrus Mbugulo, dua anak muda, Malek Ugipa dan Melkiana Dendegau, menggenggam erat keyakinan mereka, lebih kuat dari rasa takut, lebih kokoh dari bayang-bayang konflik yang kerap menghantui kampung halaman mereka.
Hari itu, di bawah langit yang kelabu, mereka melangkah keluar dari paroki tercinta. Pukul sepuluh pagi, kaki mereka mulai menapaki tanah basah, menyusuri jalur hutan yang sepi, hanya ditemani desir angin, bisikan dedaunan, dan nyanyian burung liar yang entah dari mana datangnya. Mereka tahu, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ini adalah ziarah jiwa, perjalanan iman menuju PYD II Nabire, di mana ribuan OMK dari seluruh Keuskupan Timika akan berkumpul, berbagi harapan, dan meneguhkan panggilan sebagai pewarta damai di tengah luka bumi Cenderawasih.
Mereka berjalan tanpa peta, hanya berpedoman pada cerita orang tua, jejak samar di tanah, dan doa yang terus mereka bisikkan di hati. Langkah demi langkah membawa mereka ke Kampung Gepelo, tempat mereka bermalam di balik dinding-dinding kayu yang rapuh. Malam itu, gelap begitu pekat. Di luar, hutan bersenandung pelan; di dalam dada mereka, nyala semangat tetap menyala.
“Kami datang bukan untuk sekadar hadir, kami datang untuk membawa harapan,” cerita Malek
Ketika fajar masih malu-malu di ufuk timur, pukul lima pagi, mereka melanjutkan perjalanan. Lelah adalah teman setia, tapi semangat mereka lebih kuat dari segala rintangan. Mereka menembus rimba, melompati akar-akar besar, menyebrangi aliran-aliran sungai kecil, hingga senja merunduk, mereka tiba di Komopa (Pasir Putih). Tubuh basah oleh peluh, namun senyum tetap merekah di wajah mereka.
Dari Komopa, perjalanan berubah wujud. Mereka harus menyeberang danau luas dengan perahu Jonson, membelah air yang beriak tenang, menuju Enarotali, ibu kota Paniani. Ongkos perjalanan Rp 300.000 adalah harga yang mahal, tapi harga iman tak terukur dengan uang. Di setiap getaran mesin perahu, di setiap percikan air yang mengenai wajah mereka, ada doa yang terpanjat, ada kerinduan akan rumah besar bernama Gereja.
Di Enarotali, lelah belum usai. Mereka harus mengarungi jalan berliku selama lima jam menggunakan mobil, menuju Nabire, tempat pertemuan akbar OMK se-Keuskupan Timika. Di sanalah mereka ingin berdiri, bukan sekadar sebagai tamu, tapi sebagai saksi bahwa dari sudut sunyi, dari kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota, ada anak-anak muda Papua yang masih setia pada panggilan Gereja.
“Kenapa kami memilih jalan ini?”
Dengan tatapan teduh, Malek menjawab, “Karena Gereja Katolik adalah rumah perlindungan kami. Di tengah perang, di tengah bayang-bayang maut, hanya di dalam Gereja kami merasa aman, hanya dalam persekutuan umat kami menemukan damai. Ini bukan soal perjalanan, ini soal iman.”
Andai mereka memilih jalan lain, melewati Sugapa, Ibu Kota Intan Jaya, mungkin waktu yang dibutuhkan lebih lama, dua hingga tiga hari, belum lagi sungai-sungai yang meluap, ancaman banjir, atau rintangan yang tidak terduga. Tapi mereka memilih jalur ini, jalur yang tidak mudah, namun lebih pasti, lebih cepat, dan lebih aman.
Kisah Malek dan Melkiana adalah kisah tentang keberanian, tentang cinta kepada Gereja, tentang harapan yang tetap hidup meski tanah kelahiran mereka terluka oleh konflik. Di setiap langkah kaki yang menembus hutan, di setiap malam yang mereka lalui di bawah langit terbuka, mereka membawa nama besar OMK, membawa nama Gereja, membawa pesan bahwa iman adalah perjalanan, dan perjalanan adalah pengorbanan.
Semoga kisah ini menjadi suluh bagi kita semua, bahwa di ujung rintangan selalu ada cahaya, dan di balik gelapnya malam, selalu ada fajar harapan yang menanti.


















































































