Agats – Pernyataan Joseph Gilbert Ohoitimur, Program Manager SSR Perdhki Keuskupan Agats, layak menjadi alarm bagi kita semua. Apa yang ia sampaikan bukan sekadar laporan program, melainkan cerminan realita getir di wilayah Asmat, Papua Selatan, di mana malaria masih menjadi momok yang merenggut banyak aspek kehidupan masyarakat.
Keberadaan kader malaria di 17 Puskesmas adalah langkah konkret yang patut diapresiasi. Namun, seperti yang diungkapkan Gilbert, masalah malaria di Asmat bukan sekadar soal jumlah kader atau program kesehatan semata. Akar persoalan jauh lebih kompleks, mulai dari pola hidup masyarakat hingga kondisi lingkungan yang masih jauh dari kata layak.
Fakta bahwa lingkungan yang kurang terawat menjadi pemicu utama penularan malaria seharusnya membuka mata semua pihak. Ini bukan hanya tugas tenaga kesehatan atau para kader malaria. Ini adalah pekerjaan besar yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Gilbert secara gamblang menyinggung bahwa malaria adalah ancaman nyata terhadap kualitas hidup masyarakat Asmat. Pernyataan ini seharusnya menjadi bahan refleksi mendalam. Bagaimana mungkin kita bicara soal pembangunan, kesejahteraan, atau masa depan generasi muda jika nyawa mereka terus terancam oleh penyakit yang sebenarnya bisa dicegah?
Lebih memprihatinkan lagi, kendala terkait ketersediaan obat malaria di lapangan menunjukkan bahwa sistem penanganan kesehatan kita masih rapuh. Apa gunanya kader yang sudah terlatih jika di lapangan mereka kekurangan alat perang melawan malaria? Di sinilah pentingnya perhatian pemerintah Pusat, terutama Kementrian Kesehatan dalam memantau dan mendistribusikan obat malaria.
Karena malaria di Asmat bukan sekadar penyakit endemik biasa. Ini adalah cerminan ketimpangan, keterbatasan akses, dan lemahnya penanganan sistematis. Target eliminasi malaria 2030 yang dicanangkan pemerintah jangan hanya menjadi slogan indah di atas kertas. Harus ada aksi konkret, intervensi serius, dan pembenahan menyeluruh.
Apa yang diutarakan Joseph Gilbert Ohoitimur harus menjadi panggilan moral bagi kita semua. Asmat tidak butuh janji-janji, melainkan tindakan nyata. Eliminasi malaria di 2030 bukan hal mustahil, asalkan ada sinergi, keberpihakan, dan komitmen kolektif yang sungguh-sungguh.
Selamatkan Asmat, Lawan Malaria Sekarang!
































































































