SahabatRakyat.Id – Langkah senyap namun tegas dilakukan Komunitas Intelijen (Community) Asmat yang tergabung dalam Tim Kewaspadaan Dini Daerah (TKDD) Kabupaten Asmat. Dalam semangat menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Community kembali menunjukkan taringnya. Kali ini, target mereka adalah seorang Warga Negara Asing (WNA) asal China yang kedapatan melakukan aktivitas mencurigakan di wilayah adat Asmat.
Menurut salah satu anggota intelijen yang enggan disebutkan namanya, pemantauan terhadap pergerakan WNA tersebut telah dilakukan sejak lebih dari sebulan lalu. “Kami sudah memonitor yang bersangkutan sejak pertama kali menginjakkan kaki di Asmat. Terakhir kami lacak keberadaannya di Kampung Jinak. Ia terlihat berjalan bersama Kepala Kampung setempat,” ungkapnya.
Temuan community Asmat bukan tanpa alasan. WNA China tersebut diketahui membawa peralatan teknologi canggih, termasuk kamera mini dan perangkat untuk siaran langsung (live streaming) melalui sebuah platform media sosial yang berbasis di China. Yang mengejutkan, platform tersebut tidak umum diakses oleh masyarakat Indonesia karena hanya menggunakan bahasa Mandarin dan diperuntukkan khusus bagi audiens di negaranya.
“Setelah kami menyusuri jejak digitalnya, kami dapati sejumlah video siaran langsung yang menampilkan anak-anak Asmat mengenakan ornamen budaya khas. Namun dalam rekaman itu, WNA ini mengeluarkan ujaran tidak pantas yang secara etika menghina simbol budaya lokal,” jelas anggota comminity tersebut.
Yang lebih mengkhawatirkan, WNA ini tidak terdaftar sebagai jurnalis, peneliti, maupun vlogger resmi. Artinya, aktivitas pengambilan gambar, siaran langsung, dan interaksi dengan warga lokal tidak didasari izin atau visa kerja yang sah. Situasi ini memicu kecurigaan bahwa yang bersangkutan mungkin memiliki agenda tersembunyi yang membahayakan stabilitas sosial-budaya setempat.
Pencarian terhadap WNA tersebut berlangsung selama tiga hari. Akhirnya, tim berhasil menemukannya di salah satu penginapan di Kota Agats. Dalam koordinasi cepat, community menghubungi pihak Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Asmat, Imigrasi, serta Kepolisian Resor Asmat.
“Sejumlah barang bukti berupa perangkat elektronik dan dokumen berhasil diamankan. Selanjutnya, yang bersangkutan telah diterbangkan ke Merauke untuk proses pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang,” tambahnya.
Aksi ini menjadi bukti konkret bahwa community Asmat berperan aktif dalam memastikan keamanan, ketertiban, dan keutuhan budaya di wilayah paling timur Indonesia. Apalagi Kabupaten Asmat memiliki nilai budaya tinggi yang selama ini menjadi incaran banyak pihak asing, baik dalam bentuk eksplorasi wisata, antropologi, maupun yang lebih mengkhawatirkan eksploitasi digital untuk kepentingan pribadi.
Dengan kejadian ini, community mengimbau masyarakat dan para pemangku adat agar lebih waspada terhadap kehadiran orang asing di wilayah mereka. “Kita tidak anti terhadap tamu. Tapi kita wajib waspada, karena kedaulatan bukan sekadar soal batas wilayah, tetapi juga harga diri budaya,” tegasnya.


















































































