Sahabat Rakyat — Jagat maya tengah dihebohkan oleh beredarnya sejumlah video yang memicu kemarahan publik. Video tersebut memperlihatkan seorang Warga Negara Asing (WNA) asal China, Sun Wenxuan, yang diduga kuat telah mengeksploitasi anak-anak dan perempuan dari suku Asmat, Papua Selatan, demi kepentingan konten media sosialnya.
Dalam video yang viral di salah satu platform media sosial, Sun Wenxuan tampak memerintah anak-anak dan perempuan dari salah satu kampung di wilayah Asmat untuk melakukan sejumlah aksi yang diarahkan olehnya. Mereka dipaksa mengikuti arahan meski terlihat kebingungan dan tertekan. Menurut saksi mata dan sejumlah warga, tindakan itu disertai dengan penggunaan kata-kata kasar dan merendahkan dari yang bersangkutan. Anak-anak tampak tidak memahami maksud dari perintah tersebut, namun tetap melakukannya, diduga karena tekanan dan iming-iming hadiah kecil.
“Ini bentuk eksploitasi terhadap budaya dan anak Asmat. Demi konten, yang bersangkutan tega melakukan itu,” ujar David Jimanipits, Ketua Lembaga Masyarakat Adat Asmat (LMAA), saat dikonfirmasi oleh media lokal.
_Aktivitas Sun Sudah Lama Dipantau_
Sun Wenxuan diketahui telah berada di wilayah Asmat lebih dari satu bulan terakhir. Ia berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lainnya dengan dalih dokumentasi sosial. Namun belakangan diketahui, yang bersangkutan merekam video untuk keperluan konten pribadi di media sosial. Ia tidak memiliki izin resmi untuk melakukan aktivitas tersebut, apalagi melibatkan warga lokal terutama anak-anak tanpa perlindungan hukum yang memadai.
Sun tidak datang sendiri. Ia sempat ditemani seorang rekannya yang kini telah kembali ke negaranya. Keberadaannya akhirnya diketahui berkat laporan masyarakat dan investigasi cepat dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Asmat yang bekerja sama dengan Tim Komunitas Intelejen Asmat.
_Ditangkap dan Diproses oleh Imigrasi_
Sun Wenxuan berhasil ditemukan dan langsung diserahkan ke pihak organisasi yang berwenang. Ia kemudian diperiksa oleh petugas Imigrasi yang berkedudukan di wilayah Asmat. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan awal, yang bersangkutan diberangkatkan ke Merauke untuk pemeriksaan lebih lanjut dan kemungkinan tindakan hukum sesuai pelanggaran keimigrasian dan etika sosial budaya yang dilakukannya.
_Desakan untuk Proses Hukum_
Peristiwa ini menyulut kemarahan banyak pihak, terutama masyarakat adat Asmat yang merasa harga diri dan budaya mereka dilecehkan. Aktivis dan tokoh adat menuntut agar Sun Wenxuan diproses hukum secara serius, bukan hanya dideportasi.
“Budaya kami bukan tontonan, apalagi anak-anak kami bukan alat hiburan untuk konten-konten viral. Ini harus jadi peringatan keras bagi siapa pun yang datang tanpa rasa hormat,” ungkap salah satu tokoh muda Asmat.
_Pemerintah Diminta Perketat Pengawasan_
Insiden ini menjadi peringatan keras bagi aparat dan pemerintah daerah untuk lebih memperketat pengawasan terhadap aktivitas warga asing di wilayah pedalaman, terutama yang berpotensi menyalahgunakan budaya lokal demi keuntungan pribadi. Dinas Pariwisata, Imigrasi, dan lembaga perlindungan anak diharapkan segera membuat regulasi khusus dalam menangani kasus serupa di masa depan.
































































































