SahabatRakyat.Id, Agats – Di sela kesibukannya mengenakan seragam polisi di Polres Asmat, jemari Brigadir Polisi (Brigpol) Yulince Uti tak pernah benar-benar berhenti bekerja. Jika pagi hingga siang ia mengabdi sebagai abdi negara, maka sore hingga malam hari, tangannya kembali setia merajut benang demi benang, membentuk noken tas tradisional Papua yang sarat makna dan sejarah.
Brigpol Yulince berasal dari Kabupaten Paniai, dari Suku Mee, suku yang dikenal kuat memegang tradisi. Merajut noken bukanlah keterampilan baru baginya. Ia telah menekuni kerajinan ini selama 11 tahun, bahkan jauh sebelum mengenakan seragam Polri.
“Sejak masih SD, mama sudah ajarkan saya merajut dan menjahit noken. Dulu juga pernah jahit topi,” kenangnya dengan senyum tenang.
Dari Warisan Ibu, Menjadi Jalan Hidup
Bagi Yulince, noken bukan sekadar kerajinan tangan. Ia adalah warisan keluarga. Hampir seluruh anggota keluarganya adalah perajut.
Sang ayah, Elias Uti, dikenal khusus sebagai perajut noken dari serat anggrek, jenis noken yang bernilai tinggi dan biasanya dipesan oleh para kepala suku dan kalangan berada. Dari ayah dan ibunya, Yulince belajar bahwa merajut noken bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab menjaga budaya.
Setelah lulus dan bertugas sebagai polisi di Polres Asmat, Yulince awalnya hanya merajut satu-dua noken untuk keperluan pribadi atau diberikan kepada orang terdekat. Namun perlahan, permintaan datang dari banyak pihak.
“Awalnya saya kasih-kasih ke orang. Tapi lama-lama banyak yang pesan. Terpaksa harus buat usaha noken,” tuturnya.
Ribuan Noken, Sebidang Tanah
Keputusan menjadikan merajut noken sebagai usaha sampingan ternyata mengubah hidupnya. Hingga kini, ribuan noken telah terjual, dengan dominasi noken berbahan benang, meski ia juga masih mengerjakan noken dari kulit kayu dan anggrek.
Dari hasil jerih payah itu, Yulince berhasil mencapai hal yang bagi banyak orang Papua adalah pencapaian besar: membeli sebidang tanah.
“Puji Tuhan, dari hasil noken saya bisa beli tanah,” ujarnya lirih, penuh syukur.
Selain noken, Yulince juga merajut topi, baju, dan celana, mengikuti permintaan pasar yang semakin kreatif. Ia kerap menerima pesanan khusus, seperti rajutan dengan tulisan, motif tertentu, bahkan peta wilayah.
Untuk satu noken, ia membutuhkan waktu tiga hingga empat hari, tergantung pada tingkat kesulitan dan padatnya tugas di kantor.
Noken Merah Putih untuk Polres Asmat
Dedikasi dan kreativitas Yulince tak luput dari perhatian institusinya. Polres Asmat bahkan memberikan penghargaan khusus kepadanya dan mempercayakannya menjahit noken untuk kebutuhan kantor.
Salah satu karya istimewanya adalah Noken Bimas, dengan corak merah putih, simbol nasionalisme yang berpadu dengan kearifan lokal Papua.
“Ini kebanggaan tersendiri bagi saya. Noken bisa masuk ke institusi negara,” katanya.
Atas konsistensinya menjaga budaya, Yulince juga telah mengantongi sertifikat noken, hasil keikutsertaannya dalam berbagai pameran dan festival budaya noken.
Noken adalah Rahim Kehidupan
Bagi Brigpol Yulince, noken memiliki makna yang jauh lebih dalam.
“Noken itu rahim,” ucapnya mantap.
Dalam budaya Papua, noken melambangkan kehidupan, perlindungan, dan keberlanjutan. Dari noken, perempuan menggendong anak, membawa hasil kebun, hingga menyimpan harapan masa depan.
Karena itu, Yulince memiliki pesan kuat bagi perempuan Papua dan generasi muda.
“Saya harap banyak perempuan kreatif seperti merajut noken. Di situ ada budaya, ada ekonomi, dan ada masa depan.”
Di tanah Asmat, Brigpol Yulince Uti membuktikan bahwa seragam polisi dan benang noken bisa berjalan beriringan—menjaga keamanan negara sekaligus merawat rahim budaya Papua, satu rajutan dalam satu waktu.
































































































