SahabatRakayat.Id — Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Asmat, Lambertus Leu, menciptakan gebrakan baru melalui proyek perubahan bertajuk “Wisata Aman Asmat” atau disingkat TAMAN ASMAT. Gagasan ini lahir dari keprihatinan sekaligus kepedulian terhadap geliat dunia pariwisata Asmat yang terus berkembang, namun membutuhkan sistem keamanan dan kenyamanan yang terjamin bagi para pengunjung.
Asmat selama ini dikenal dunia dengan kekayaan budaya, seni ukir, dan keindahan alam yang asri. Sebagai wilayah wisata minat khusus, Kabupaten Asmat menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. Namun di balik keindahan tersebut, aspek keamanan dan keselamatan wisata masih menjadi tantangan tersendiri.
Melihat fenomena itu, Lambertus Leu menggagas program TAMAN ASMAT sebagai model sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, pelaku wisata, dan aparat keamanan dalam menciptakan iklim pariwisata yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Dalam proses penyusunan proyek perubahan ini, Lambertus mengundang berbagai pemangku kepentingan — mulai dari tokoh adat, pelaku wisata, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Dinas Pariwisata, TNI, Polri, Tim Sar, Imigrasi hingga kalangan jurnalis — untuk memberikan masukan dan tanggapan.
Dari hasil diskusi tersebut, muncul sejumlah usulan strategis yang memperkaya substansi program, di antaranya:
Pemetaan Zona Aman Wisata di setiap wilayah kunjungan,Pelatihan Kapasitas Masyarakat Lokal sebagai pemandu wisata dan penjaga keamanan budaya, Promosi Wisata Aman melalui berbagai media, Penyusunan SOP Kunjungan Budaya agar wisatawan memahami nilai dan tata cara adat Asmat, serta Pendirian Pusat Informasi Wisata Aman (Tourism Information Centre) sebagai pusat koordinasi dan edukasi wisatawan.
Ketua Lembaga Masyarakat Adat Asmat (LMAA), Antonius Cosomanam, menyambut baik gagasan inovatif ini.
“Langkah yang diambil oleh Pak Lambertus sangat urgen. Dengan adanya Tamat Asmat, para pengunjung akan merasa nyaman datang ke Asmat. Di sisi lain, masyarakat juga bisa semakin mencintai dan melestarikan budayanya melalui pariwisata,” ujarnya.
Program Tamat Asmat bukan hanya tentang keamanan fisik wisatawan, tetapi juga bentuk nyata dari pelibatan masyarakat adat dalam menjaga marwah budaya dan lingkungan Asmat. Dengan kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan Asmat tidak hanya dikenal karena keindahan dan kekayaan budayanya, tetapi juga karena keamanannya yang terjamin bagi siapa pun yang datang berkunjung.
“Wisata aman, budaya lestari, Asmat maju” menjadi semboyan baru yang kini menggema dari tepi Sungai Agats hingga pelosok kampung, membawa semangat baru bagi dunia pariwisata di Tanah Seribu Ukiran.


















































































