Agats, SahabatRakyat.Id – Deru dayung memecah permukaan air yang tenang. Puluhan lelaki berdiri tegap di atas perahu-perahu kayu, mengayunkan dayung secara serempak. Suara nyanyian adat bersahut-sahutan, berpadu dengan tabuhan tifa yang menggema di sepanjang pesisir Kampung Emene, Distrik Safan, Asmat.
Di tengah barisan masyarakat itu, berdiri Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo. Sebilah busur dan panah terselip di tangannya, simbol penghormatan adat bagi tamu yang diterima sebagai bagian dari keluarga besar kampung.
Selasa (23/06/2026) siang itu, Kampung Emene sedang merayakan lahirnya 23 perahu baru, sebuah tradisi yang bagi orang Asmat memiliki makna jauh lebih dalam daripada sekadar alat transportasi.
Perahu adalah kehidupan. Ia membawa masyarakat mencari makan, menghubungkan kampung-kampung yang dipisahkan sungai dan laut, sekaligus menjadi simbol persatuan dan kekuatan sebuah komunitas.
Karena itu, ketika perahu perahu baru selesai dibuat, masyarakat berkumpul dalam pesta adat yang meriah sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta dan penghormatan kepada leluhur.
Kedatangan Bupati bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Asmat disambut dengan kemeriahan yang menunjukkan betapa pentingnya momentum tersebut bagi masyarakat Emene.
Sepanjang perjalanan dari laut menuju kampung, nyanyian adat terus mengalun. Hentakan dayung yang kompak seolah menjadi irama yang mengiringi perjalanan pemimpin daerah itu menuju daratan.
Setibanya di tepian kampung, para tetua adat dan masyarakat yang telah menunggu langsung menyambutnya dengan penuh sukacita. Dalam tradisi penghormatan yang jarang ditemui, Bupati bahkan diangkat beramai-ramai menuju gerbang kampung.
Wajah-wajah penuh senyum menyambut dari kiri dan kanan jalan. Anak-anak berlarian mengikuti rombongan. Para perempuan menari dengan pakaian adat, sementara kaum lelaki terus melantunkan syair-syair tradisional menuju Gereja.
Suasana semakin hangat ketika Bupati dan Ketua TP-PKK ikut bergoyang bersama masyarakat. Tak ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya. Mereka larut dalam irama yang sama, dalam kegembiraan yang sama.
Di hadapan masyarakat, Thomas Eppe Safanpo menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan warga Emene selama pelaksanaan Pilkada.
Namun lebih dari itu, ia mengungkapkan kekagumannya terhadap masyarakat Safan yang masih mampu menjaga hutan dan tradisi pembuatan perahu besar.
“Saya sudah beberapa kali mengikuti pesta perahu di berbagai tempat. Banyak perahu yang dibuat sekarang ukurannya kecil. Ketika saya tanya, mereka bilang kayu besar sudah habis. Tetapi orang-orang Emene luar biasa. Kalian masih menjaga hutan dengan baik sehingga kayu-kayu besar untuk membuat perahu masih tersedia. Perahu-perahu di sini bagus dan besar semua,” ujarnya yang langsung disambut tepuk tangan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena belum semua aspirasi pembangunan dapat diwujudkan. Kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat turut berdampak pada kemampuan daerah dalam menjalankan sejumlah program.
Meski demikian, ia mengajak masyarakat untuk tetap optimistis.
“Kita berdoa dan berharap agar tahun 2027 kondisi keuangan negara dan daerah semakin baik sehingga pembangunan dapat berjalan lebih maksimal dan kebutuhan masyarakat bisa dipenuhi secara bertahap,” katanya.
Menjelang sore, pesta masih berlangsung. Tarian adat terus mengalun di halaman kampung. Tawa anak-anak bercampur dengan percakapan para tetua yang mengenang perjalanan panjang kampung mereka.
Pesta tersebut menjadi penanda bahwa budaya Asmat masih berlayar kuat di tengah arus perubahan zaman, dijaga oleh masyarakat yang setia merawat warisan leluhurnya.































































































