Agats, SahabatRakyat.Id – Bupati Kabupaten Asmat, Thomas Eppe Safanpo, menghadiri dan menyaksikan langsung Pesta Patung Bis di Kampung Desep, Distrik Betsbamu, Sabtu (20/06/2026). Kehadiran orang nomor satu di Asmat itu menjadi bentuk nyata dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya dan tradisi leluhur masyarakat Asmat.

Dalam kunjungan tersebut, Bupati didampingi Ketua TP-PKK Kabupaten Asmat, Ketua MRP Papua Selatan, Damianus Katayu, dua anggota DPRK serta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Asmat, Matheus Metemko.

Kedatangan rombongan Bupati disambut meriah oleh masyarakat adat Kampung Desep. Suasana penuh khidmat dan kebanggaan budaya tampak saat rombongan memasuki rumah adat Jeu. Di tempat tersebut, masyarakat menyuguhkan berbagai ritual adat yang sarat makna, mulai dari lantunan lagu tradisional, tabuhan tifa yang menggema, hingga tarian adat yang dibawakan oleh para penari kampung.

Pesta Patung Bis merupakan salah satu tradisi budaya paling sakral dalam kehidupan masyarakat Asmat. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas dan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam sambutannya, Bupati Thomas Eppe Safanpo menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada masyarakat Distrik Betsbamu, khususnya warga dua kampung yang telah memberikan dukungan penuh kepada dirinya dan Wakil Bupati Asmat, Yoel Manggaprou, pada Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2024.
“Saya selaku Bupati Asmat, atas nama pribadi, keluarga, dan juga Wakil Bupati Pak Yoel Manggaprou menyampaikan terima kasih kepada masyarakat dua kampung yang telah memilih kami pada Pilkada 2024. Dukungan yang diberikan mencapai seratus persen. Untuk itu kami sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami,” ujar Bupati.
Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menjelaskan kondisi keuangan daerah yang saat ini terdampak kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Menurutnya, sejumlah program prioritas nasional seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berbagai program strategis lainnya turut berpengaruh terhadap alokasi anggaran daerah.
“Akibat kebijakan efisiensi ini, pelayanan pemerintah di beberapa sektor mengalami keterbatasan. Tahun 2025 anggaran Kabupaten Asmat dipotong lebih dari Rp80 miliar. Sementara pada tahun 2026 ini pemotongan anggaran mencapai sekitar Rp259 miliar. Karena itu apabila ada pelayanan yang belum maksimal, bukan karena pemerintah sengaja mengabaikan masyarakat, tetapi karena adanya keterbatasan anggaran yang harus kita hadapi bersama,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa dampak efisiensi tersebut tidak hanya dirasakan oleh pemerintah kabupaten dan provinsi, tetapi juga menyentuh pemerintah kampung yang mengalami penyesuaian dalam pelaksanaan program pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
Meski demikian, Bupati memastikan pemerintah daerah tetap berkomitmen hadir di tengah masyarakat. Kehadirannya dalam Pesta Patung Bis, menurutnya, menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memberi perhatian serius terhadap pelestarian budaya Asmat.
“Kehadiran saya hari ini adalah wujud kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. Ini menunjukkan bahwa pemerintah peduli dan turut ambil bagian dalam upaya melindungi, merawat, serta melestarikan budaya kita, budaya orang Asmat. Pemerintah harus hadir, baik dalam pembangunan maupun dalam menjaga warisan budaya yang menjadi identitas kita bersama,” tegasnya.































































































