Agats, SahabatRakyat.Id – Di Aula Wiata Mandala, Jumat siang itu (13/02/2026), suasana terasa berbeda. Kursi-kursi terisi oleh wajah-wajah penuh harap: para mama penjual sayur, pedagang ikan, penganyam noken, pengukir kayu, hingga pelaku UMKM kecil dari kampung-kampung jauh di Kabupaten Asmat.
Mereka datang bukan sekadar menghadiri acara seremonial. Mereka datang membawa mimpi sederhana: usaha kecil yang bisa bertahan, dapur yang tetap mengepul, dan masa depan keluarga yang lebih pasti.
Hari itu, Pemerintah Kabupaten Asmat melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Perindagkop) resmi menyalurkan bantuan modal usaha bagi pelaku usaha Orang Asli Papua (OAP) Tahun Anggaran 2025.
Bantuan itu bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Ia adalah harapan yang dijahit dalam kerja keras masyarakat.
Dalam sambutannya, Thomas Eppe Safanpo, Bupati Asmat berdiri di hadapan para penerima manfaat dengan pesan yang tegas namun penuh makna. Ia menekankan bahwa bantuan modal usaha ini bukan bantuan sosial yang habis dalam sehari, melainkan instrumen strategis untuk membangun kesejahteraan.
“Ini bukan bantuan konsumtif. Ini modal untuk usaha. Kesejahteraan harus dirasakan langsung oleh masyarakat Orang Asli Papua. Inilah muara dari perjuangan kita,” ujar Bupati.
Bagi pemerintah daerah, program ini adalah langkah konkret dalam mewujudkan visi besar: Asmat yang sejahtera, bukan hanya dalam slogan, tetapi dalam kehidupan nyata masyarakat.
Pada Tahun Anggaran 2025, pemerintah mengalokasikan total anggaran sebesar Rp4.440.500.000.
Dana tersebut bersumber dari:
Dana Otonomi Khusus Spesifik Grant sebesar Rp1.440.500.000, Dana bagi hasil royalti sebesar Rp3.000.000.000
Dengan anggaran itu, bantuan disalurkan kepada 952 pelaku usaha OAP yang tersebar di berbagai distrik dan kampung.
Rinciannya menggambarkan denyut ekonomi rakyat Asmat:
630 penjual sayur, 86 penjual ikan dan ikan olahan 33 pengukir 126 penganyam 71 pelaku UMKM dan jasa lainnya.
Mereka adalah wajah ekonomi Asmat yang sesungguhnya: usaha kecil, tetapi menjadi penopang hidup banyak keluarga.
Di antara penerima bantuan, ada mama-mama yang setiap pagi mengangkat sayur ke pasar, ada pedagang ikan yang menggantungkan hidup pada sungai dan laut, ada penganyam yang merajut keterampilan turun-temurun menjadi penghasilan, dan ada pengukir yang menjaga identitas budaya Asmat lewat karya kayu yang mendunia.
Bantuan modal usaha ini menjadi dorongan agar usaha-usaha itu tidak hanya bertahan, tetapi berkembang.
Bupati juga menginstruksikan kepada perangkat daerah terkait agar melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala.
Bantuan harus: tepat sasaran, tepat penggunaan, memberi dampak nyata terhadap pendapatan masyarakat
Program afirmasi pemberdayaan ekonomi kerakyatan ini telah berjalan konsisten sejak 2022 hingga 2024, dan kini kembali dilanjutkan sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah.
“Kami ingin pelaku usaha OAP semakin mandiri secara finansial, mampu mengembangkan usaha, dan bersaing dengan pelaku usaha lain di Asmat,” tegas Bupati.
































































































