SahabatRakyat. Id, Agats —Menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei, Pemerintah Kabupaten Asmat menggelar sarasehan pendidikan yang berlangsung hangat dan penuh refleksi. Kegiatan ini menghadirkan para pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari kepala sekolah, pengawas, guru, hingga perwakilan masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo, menegaskan bahwa dunia pendidikan di Asmat saat ini sedang menghadapi tantangan serius. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap rendahnya kompetensi guru dan kualitas lulusan sekolah dasar.
“Masalah utama bukan hanya pada penyebaran guru yang belum merata, tetapi juga pada kompetensi guru yang masih rendah. Setiap tahun kita masih temukan anak-anak yang tamat SD belum bisa membaca,” kata Bupati Thomas.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu penyebab lemahnya kualitas pendidikan adalah faktor geografis Asmat yang sulit dijangkau serta keterbatasan fasilitas, termasuk rumah guru yang tidak memadai. Meski pemerintah telah membangun beberapa fasilitas, Bupati mengakui hal tersebut masih tertinggal dari kebutuhan yang ada.
Sebagai solusi, ia meminta Dinas Pendidikan untuk menyusun roadmap pendidikan yang konkret dan terukur. Salah satu langkah awal yang akan segera dilakukan adalah asesmen kompetensi guru dan tes akademik siswa secara menyeluruh, mulai dari tingkat TK hingga SMA.
“Kita harus tahu dulu, guru kita kompeten atau tidak. Setiap awal tahun ajaran, guru akan dites baik kompetensi pedagogik maupun profesional. Siswa juga akan dites akademik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka. Dari situ kita bisa tahu di mana masalah sesungguhnya,” jelas Bupati.
Selain itu, Pemkab Asmat akan merekrut 30 guru kontrak pada tahun ini, dengan prioritas 60 persen untuk guru TK dan 40 persen untuk guru SD. Kebijakan ini diharapkan dapat menambal kekurangan tenaga pendidik sambil memperbaiki mutu layanan pendidikan dasar.
Dalam visi besarnya, Bupati Thomas menargetkan pada tahun 2026 akan mulai digelar lomba-lomba edukatif seperti lomba sains, yang dimulai dari tingkat distrik hingga kabupaten. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan minat belajar dan meningkatkan semangat kompetisi intelektual di kalangan siswa.
Langkah progresif lainnya adalah penerapan Bahasa Inggris sejak usia dini, di mana semua TK negeri dan swasta wajib memiliki guru Bahasa Inggris. Kebijakan serupa juga akan berlaku untuk penguatan kompetensi teknologi informasi sejak pendidikan dasar.
Ia juga menyampaikan rencana pengembangan sekolah satelit. Sekolah satelit adalah unit layanan pendidikan yang berada di bawah koordinasi atau pengelolaan langsung dari sekolah induk (biasanya sekolah dasar negeri atau swasta). Tujuannya adalah memperluas akses pendidikan bagi anak-anak di lokasi terpencil yang sulit menjangkau sekolah induk karena jarak, kondisi geografis, atau keterbatasan transportasi.
Menjelang peringatan Hardiknas, Bupati Thomas menyatakan akan mengumumkan dua kebijakan penting pada 2 Mei, yakni:
1. Penerapan sistem sekolah lima hari dalam sepekan, dan
2. Pendidikan gratis bagi seluruh sekolah negeri di Kabupaten Asmat.
Ini adalah bentuk komitmen kami. Situasi pendidikan kita sedang kritis, maka kita tidak bisa lagi bekerja biasa-biasa saja. Semua kebijakan ini adalah untuk memperisapakan anak anak Asmat dalam menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.

































































































Mantap, kompetensi guru betul sekali harus diuji/ dites dan kemalasan guru dalam kehadiran juga harus ketat di awasi (guru banyak makan gaji buta) sehingga anak didik bisa belajar dengan sungguh-sungguh, penerapan wajib belajar di rumah serta sinerginya orang tua terhadap perkembangan anak penting juga. Kepala sekolah juga di uji kepedulian terhadap guru dan siswa jangan hanya korupsi di sekolah dan komunikasi yg jelek terhadap para guru sebagai team untuk mencerdaskan anak bangsa, kebutuhan guru TDK dipenuhi oleh kepal sekolah. Ini REAL … Semoga bupati dan Ka Dinas Pendidikan memperhatikan ini.
Terima kasih